Di era modern ini, produktivitas sering kali menjadi standar keberhasilan seseorang. Banyak orang merasa harus selalu sibuk, bekerja tanpa henti, dan mengukur nilai diri berdasarkan seberapa banyak pekerjaan yang mereka selesaikan. Fenomena ini dikenal sebagai toxic productivity, yaitu keadaan di mana seseorang terus-menerus merasa harus produktif hingga mengorbankan kesehatannya, baik fisik maupun mental.
Dalam Islam, bekerja keras adalah ibadah, tetapi Islam juga mengajarkan keseimbangan dalam hidup. Lalu, bagaimana cara menghindari toxic productivity dan tetap produktif dalam koridor syariat?
Produktivitas dalam Islam: Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja dengan niat yang benar, bukan semata-mata mengejar kesuksesan dunia. Allah SWT berfirman:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia…" (QS. Al-Qasas: 77)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak melarang seseorang untuk produktif, tetapi harus tetap memperhatikan aspek spiritual dan kesehatan diri.
Bahaya Toxic Productivity dalam Islam
Toxic productivity tidak hanya merugikan kesehatan, tetapi juga bisa menjauhkan seseorang dari nilai-nilai Islam, seperti:
- Melalaikan ibadah karena terlalu sibuk bekerja.
- Mengabaikan kesehatan dengan bekerja berlebihan tanpa istirahat.
- Kurangnya waktu untuk keluarga dan sesama karena fokus pada pencapaian pribadi.
- Hilangnya ketenangan hati akibat tekanan untuk selalu produktif.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kita harus menjaga kesehatan fisik dan mental, tidak membiarkan diri terus-menerus dalam tekanan kerja yang berlebihan.
Cara Menghindari Toxic Productivity dalam Islam
Untuk tetap produktif tanpa jatuh ke dalam toxic productivity, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
Menata Niat dan Prioritas
Produktivitas dalam Islam seharusnya didasarkan pada niat yang benar, yaitu mencari ridha Allah. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebelum memulai pekerjaan, tanyakan pada diri sendiri apakah pekerjaan ini mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan dari-Nya.
Menjaga Waktu dengan Bijak
Islam sangat menekankan pentingnya manajemen waktu. Salah satu cara untuk menghindari toxic productivity adalah dengan membagi waktu secara seimbang antara:
- Ibadah (sholat, zikir, membaca Al-Qur’an).
- Pekerjaan dengan batasan waktu yang wajar.
- Istirahat dan rekreasi untuk menjaga kesehatan mental.
- Waktu bersama keluarga dan sesama sebagai bagian dari silaturahmi.
Beristirahat dengan Sunnah Rasulullah
Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat produktif, tetapi beliau juga memberikan teladan dalam menjaga keseimbangan hidup. Beberapa sunnah yang bisa diterapkan:
- Tidur cukup agar tubuh tetap sehat.
- Menghindari lembur berlebihan yang bisa mengurangi kualitas ibadah.
- Makan secukupnya dengan pola makan sehat.
- Mengambil waktu jeda untuk beristirahat di sela-sela kesibukan.
Mengutamakan Kualitas daripada Kuantitas
Dalam Islam, kualitas suatu amal lebih penting daripada kuantitasnya. Bekerja dengan fokus dan efisien lebih baik daripada bekerja tanpa henti tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang ketika bekerja, ia menyempurnakannya." (HR. Thabrani)
Artinya, lebih baik menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan penuh keikhlasan daripada mengejar banyak pekerjaan tetapi kehilangan keberkahan.
Bertawakal dan Bersyukur
Salah satu penyebab toxic productivity adalah keinginan untuk terus mencapai lebih tanpa merasa cukup. Dalam Islam, kita diajarkan untuk bertawakal dan bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang bangun di pagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR. Tirmidzi)
Bersyukur dan bertawakal akan membantu kita merasa cukup dan tidak terjebak dalam tekanan produktivitas yang berlebihan.
Islam mengajarkan produktivitas yang sehat dan seimbang. Bekerja keras itu baik, tetapi tidak boleh sampai mengorbankan ibadah, kesehatan, dan kebahagiaan diri. Dengan menata niat, mengatur waktu dengan bijak, menjaga kesehatan, dan bertawakal kepada Allah, kita bisa terhindar dari toxic productivity dan tetap meraih keberkahan dalam setiap aktivitas. Semoga kita semua bisa menjadi Muslimah yang produktif dan tetap dalam ridha Allah. Aamiin. 🤲